Hasil Pilkada DKI Putaran Kedua

9:18 AM

Baiklah. Akhirnya saya post soal masalah ini juga. Sudah lama saya menutup opini saya di sosmed perihal Pilkada kali ini, karena saya anggap Pilkada kali ini mengandung banyak sekali opini-opini berbau SARA, atau bilapun tidak, banyak sekali opini-opini yang kurang bersahabat dan saling menjelekkan antar paslon.

Karena 19 April sudah lewat, saya buka-bukaan saja ya, tentunya kalian semua pasti udah bisa nebak gw coblos yang mana... Gw termasuk salah satu warga yang puas dengan kinerja petahana, dan gw (kemarin-kemarin) sangat berharap Ahok-Djarot kembali memimpin Jakarta. Kenapa?

Karena gw udah pernah ngerasain yang namanya 'convenience'.
Sedikit informasi, gw sempet tinggal 10 tahun di Singapura, dan gw tau bener apa yang namanya kenyamanan, dari sisi transportasi, anti banjir, anti macet, jalanan bersih bebas debu, infrastruktur semua terawat, pelayanan serba cepat dan transparan, dan lain-lain. Lu mau tau apa itu convenience, lu pergi ke Singapur. Hidup di sana, tinggal di sana. Lu akan ngerasain betapa efektifnya hidup lu, dan betapa efisiennya semua hal di sekitar lu. Semua waktu lu terukur dan bisa diatur (secara hal-hal yang unpredictable seperti macet dan kerusakan bus/kereta itu hampir tidak ada).
memang sih di singapur banyak orang stress, tapi yaudahlah ya yang penting gw gak stress.

ANYWAY. balik lagi ke topik. Jadi guys, awalnya begitu tau hasil pilkada, gw terus terang kecewa.😞
Karena dream gw untuk melihat Jakarta jadi mirip dengan Singapore itu bisa dibilang sirna (or so I thought). Selama seharian gw gak komentar banyak di sosmed (kecuali via WA ke pacar a.k.a. calon suami gue, ya kan hihihi). Gw coba cerna semua ini. Gw belum tanya Tuhan kenapanya, tapi seperti biasanya, Dia paham isi hati gw. Jadi hari ini pagi-pagi di Gojek pas mau berangkat kerja, gw sempet diskusi kecil sama Roh Kudus (RK). Kira-kira begini deh kalo gw terjemahin, meski gak mirip dan mungkin ada improvisasi gw juga.

RK: Udeh gak usah dipikirin

Me: Huft

RK: Dih koq gitu?

Me: Abisnya. Maksudnya apa coba? Aku tau lah semua ada tujuannya, tapi kesel aja. Kirain bakalan cepet liat Jakarta maju. Gak taunya mesti ke-pending 5 tahun dulu.

RK: Yah namanya juga pilihan Rakyat. Hormatilah.

Me: Memang Ahok kurang kuat ya, makanya gak dijadiin gubernur lagi? Ini semua melebihi kekuatannya ya?

RK: Gak juga...

Me: Lah, terus? Koq dia ga jadi gubernur?

RK: Ya dia gak dipilih rakyat.

Me: Tapi Tuhan gak ikut andil apa?

RK: Andil maksudnya gimana? Ikutan milih? Lha Aku kan bukan warga DKI.

Me: Ya kan Engkau bisa bikin apa aja.

RK: Kalau Aku milih, terus udah pasti pilihanKu yang jadi gubernurnya, buat apa dong rakyat Jakarta dikasih hak pilih? Ya gak? Gak adil dong, dictatorship dong jadinya, bukan demokrasi.

Me: Ya gak gitu juga kali. Tapi apa kek. Gerakin hati orang-orang kek, bikin mujizat keq. Ini kayak ngebiarin aja anakMu begitu.

RK: Ya sama aja, main curang itu namanya. Kalian punya hak pilih, sifatnya voting, dan sekarang yang terpilih Anies. Hargai, hormati, karena menurut Firman kan begitu. Kamu tau kan ayatnya?

Me: Iya tau, di Ibrani. Yang 'taatilah pemimpinmu'

RK: Nah itu tau...

Dan selama perjalanan gw dibonceng abang Gojek gw dapet banyak perenungan. Kenapa Pilkada putaran kedua terjadinya SETELAH Jumat Agung?

Karena gw yakin, saat Jumat Agung pasti banyak sekali khotbah yang mengutip doa Yesus, "jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari padaKu, tetapi janganlah seperti yang kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki". Di khotbah Jumat Agung ini (meski beda-beda pendeta beda-beda khotbah), sebenernya kita udah dapat kisi-kisi untuk menghadapi musuh kita saat ini, yaitu rasa kecewa. Dan gw berdoa supaya tidak ada pendukung Ahok (terutama yang anak Tuhan) yang kecewa dengan Tuhan karena hasil pilkada yang tidak sesuai dengan kehendak kita.

Terus apakah Anies itu kehendak Tuhan?
Tuhan menghendaki kita percaya dan padaNya. Di Alkitab hanya itu yang terus-terusan ditulis. Mau siapapun gubernurnya, yang Tuhan kehendaki adalah kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia (Roma 8:28). Perihal apakah Anies adalah kebaikan bagi kita atau tidak, kita sendiri yang harus menginterpretasikannya. Setiap hal yang terjadi dalam hidup kita, pasti ada hal-hal yang patut disyukuri. Namun sekali lagi, Gubernur DKI terpilih karena rakyat DKI yang memilih. Bukan Tuhan. Tuhan hanya memfasilitasi hasilnya. Bila Ahok yang dipilih, sok ayok kita bangun Jakarta menurut gayanya Ahok. Bila Anies yang dipilih, kita bangun menurut gayanya Anies. That's how our God works. He isn't a dictator. He is a facilitator. Dan gw yakin Tuhan punya cara buat keduanya, siapapun yang menang.

Jadi sekarang, wahai teman-teman pendukung paslon #2, sikap kita harus gimana?
Ingat, ada lagi musuh kita selain rasa kecewa, yaitu keinginan untuk mengutuk.
Contoh:
"Yaudah liat aja nanti, ntar juga bakalan kecewa. Terus kangen deh sama Ahok."
"Kita tagih janjinya. OK OCE. Rumah tanpa DP." (yang ini tentu mengandung nada mencibir)
"Selamat kembali ke zaman Foke, wahai Jakarta."
"Moga-moga kena korupsi tuh mereka berdua. Terus ditangkep KPK. Eh, ketua KPK-nya Ahok."
Sounds familiar?

Keinginan untuk mengutuk. INI MUSUH KITAAAA!!! AYO LAWAN!!!! Emang gak gampang lawannya. Pikirkanlah yang positif (Filipi 4:8, Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.)

Terus gimana kalau Anies menang nanti FPI merajalela. Sweeping everywhere. Gak ada kebhinekaan lagi.
Satu hal yang pasti, Tuhan akan melindungi kita. Dan sesungguhnya, come on, kita belum tahu apakah FPI bener-bener akan merajalela bukan? meskipun kelihatannya bakal begitu, ayolah author, jangan delusi dan menghibur diri.

Oke lah gw juga terus terang takut yah buat yang satu itu. Karena mungkin gw belum siap jadi martir. Belum siap diteror harus menyangkal Yesus dan diperhadapkan dengan senapan di kepala gw atau golok di leher gw (yah elah itu mah ISIS, salah organisasi woi! 😴 kwkwkwkwk)
Gw sempet nanya sama RK, kita harus ngapain. Jawabannya lagi-lagi berdoa. I know, bosen yah. Tapi emang sih gak ada lagi. Berdoalah. Kalau kamu sayang Jakarta, berdoalah tak henti-hentinya buat kotamu. Teruslah berusaha memajukan kotamu, meskipun gubernurnya bukan pilihanmu. (Yeremia 29:7, usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada Tuhan, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu.)

Sekian celoteh dari saya. Tuhan Yesus tetap mengasihi Jakarta. Siapapun gubernurnya, Dia sudah punya rancangan masa depan kota Jakarta (menurut style masing-masing gubernur). Tergantung sikap kita saja.

Gue Lima. (*TOS*)

You Might Also Like

0 comments

Popular Posts